Tentang Saya

My photo
Seoul, 서울특별시, South Korea
Seorang bocah penggemar balapan Formula 1 dan sepak bola, sedari kecil menyukai dunia penerbangan dan terbang dengan pesawat. Saat ini sedang menunaikkan misi pendidikan sarjana di Seoul National University, Korea Selatan, dengan jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea. Memiliki ketertarikan pada fotografi dan wisata, juga bermimpi untuk bisa keliling dunia, baik sebagai seorang backpacker dengan dana secukupnya dan juga sebagai seorang high-end traveller berduit segudang.

Monday, April 11, 2011

Puasa Sushi: Efek dari Krisis Nuklir Fukushima

Saya suka sushi. Banget. Walaupun saya baru akhir-akhir ini jadi penggemar sushi (kira-kira sejak satu setengah tahun lalu), saya cintrong banget dah ah sama makanan khas Jepang ini. Dan saat saya sedang menulis post ini, saya lagi ngidam berat sama sushi +_+

Terakhir kali makan itu kira-kira dua bulan lalu, pas lagi liburan Tahun Baru Imlek. Waktu itu pergi sama teman-teman, dan saya kalap, hahahaha. Makan di restoran sushi (buffet) di Incheon City Hall, dengan KRW14.000 (KRW1=+/-Rp8. Sekali makan di restoran konvensional sekitar KRW5.000) saya bisa makan sepuasnya. Jangan tanya berapa potong itu saya makan, secara buat bolak-balik nambahnya aja udah kaya orang bolak-balik beser+diare, hahahaha :D

Wokeh, dan setelah dua bulan ga makan sushi, saya udah ngidam lagi nih. Kalau ke Incheon mah kejauhan, pas lagi sibuk kuliah begini mah mana sempet +_+ Mau cari di Seoul, susah dapetin yang murah. Kalaupun ada harganya di atas KRW20.000, muahal!

Tapi dibandingkan itu semua, ada satu lagi isu penting yang sepertinya bakal menunda "pesta" sushi saya.

Masalah tersebut tak lain dan tak bukan adalah masalah Jepang yang membuang zat-zat kimia hasil kerusakan reaktor nuklir Fukushima ke laut lepas. Gak tanggung-tanggung, bahan kimia yang dibuang itu bobotnya kalau engga salah mencapai lebih dari 11.500 ton!!! Alamakjan. Perbandingannya, sebiji Toyota Avanza itu berat kosongnya sekitar 1 ton. Bayangin deh, itu Avanza dijejerin sekitar 11.500 buah supaya bisa jadi 11.500 ton, terus dibuang ke laut +_+

Berikut ini gambar yang saya ambil dari www.seathos.org mengenai air laut yang sudah tercemar oleh limbah radioaktif tertanggal 28 Maret.


Nah nah, bisa ditebak kan itu gimana efeknya? Yang jelas laut pasti tercemar, dan bukan gak mungkin itu limbah menyebar ke Samudra Pasifik, dan yang pastinya kemakan sama ikan-ikan yang hidup di sana. Dan yang paling saya takutin itu, ikan yang dijadiin sushi itu (tuna, salmon, atau bla bla bla-nya itu) melintas di area yang tercemar, yang secara otomatis terkontaminasi sama zat radioaktif itu. Hayaaah ㅠㅠ

Efek kerusakan PLTN Fukushima ternyata benar-benar berdampak besar. Sekarang saya jadi agak was-was kalau makan ikan jadinya :( Yah, mungkin aja saya kemakan isi berita, cuma yah, gimana sih, kalau mainannya sama nuklir ya khawatir juga, Mamen :( Sepertinya saya akan stop makan ikan dulu untuk jangka waktu, yang sialnya, engga bisa ditentukan ini. Dan itu berarti saya juga gak akan makan sushi dalam jangka waktu tersebut. Hiks.

Oh sushiku, akankah kisah cinta kita berakhir?

(Lebay mode on, hahahaha) :D

Sekarang saya hanya bisa berharap untuk yang terbaik. Semoga saya akan bisa makan sushi sesegera mungkin ;(


No comments:

Post a Comment