Tentang Saya

My photo
Seoul, 서울특별시, South Korea
Seorang bocah penggemar balapan Formula 1 dan sepak bola, sedari kecil menyukai dunia penerbangan dan terbang dengan pesawat. Saat ini sedang menunaikkan misi pendidikan sarjana di Seoul National University, Korea Selatan, dengan jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea. Memiliki ketertarikan pada fotografi dan wisata, juga bermimpi untuk bisa keliling dunia, baik sebagai seorang backpacker dengan dana secukupnya dan juga sebagai seorang high-end traveller berduit segudang.

Saturday, April 30, 2011

Korean Language Study Tour: DAY 2

서울대학교 한국어학반 학술 답사
전라북도 두 번쩨 날: 방언 조사

Read Previous:
Korean Language Study Tour: DAY 1

Rencana utama Day 2 adalah pergi ke desa yang bernama Sangipseok (상입석 마을) di kota Buan (부안군) untuk melakukan penelitian tentang bahasa daerah Jeolla (전라도 방언 조사). Seelah sarapan pagi di restoran dekat penginapan, kami berangkan menuju desa tersebut pukul 9:30 pagi. Oh iya, untuk penelitian bahasa daerah ini, 35 orang mahasiswa dibagi ke dalam 5 kelompok dengan 5 orang mahasiswa S-3 menjadi team-leader, dan dalam 5 kelompok itu terdiri dari campuran mahasiswa S-1, S-2, dan S-3. Saya kebagian masuk di tim 5 yang dikomandani oleh seorang kakak baik hati bernama Chae-Won. Termasuk juga seorang mahasiswi S-1 seumuran saya berinisial YHW, dan doi, ehm, agak2 seksi gimanaaaa gitu, bikin ser-seran coy, hahahaha! Doi lumanyun cantik sih, tapi suka pakai baju agak ketat plus pakai rok pendek gitu, huehue *mesum mode on, wakakakakak *peacee, nyebuut, nyebuut, hehe.

Halte tempat kami diturunkan
Aaaaaaaaaaaaaaanyway, akhirnya setelah perjalanan 1 jam dari penginapan, kami sampai di desa, tim 1~2 diperintahkan menuju Balai Desa Sangipseok (상입석 마을 회관), dan tim 3~5 ke Balai Desa Heungsan (흥산 마을 회관). Berhubung jalanannya kecil dan gak muat dilewati bus besar, akhirnya kami diturunkan di halte terdekat dan menelusuri jalan khas pedesaan menuju balai desa tsb. Sampai di balai desa, sudah menanti dua orang nenek yang udah di-"booking" buat jadi narasumber dalam penelitian kali ini. Tapi btw, itu narasumbernya kurang satu orang. Kan harusnya ada 3 orang nenek, tapi nenek yang satu lagi cabut duluan gara2 kami datengnya agak telat sekitar 15 menitan (gubrak deh, pundung kayaknya si nenek, hehe). Gara2 itu, akhirnya kelompok 3 mewawancarai satu nenek, dan kelompok 4~5 gabungan mewawancarai nenek satunya lagi.

Balai desa
Oh iya, sekedar info aja, nenek yang menjadi narasumber ini adalah penduduk asli setempat yang dari lahir hingga umurnya yang telah menginjak 80-an tahun gak pernah sekalipun meninggalkan desa. Dan karena mereka adalah pendudk asli, bahasa Korea yang mereka gunakan adalah bahasa Korea yang amat sangat kental dengan logat setempat, yaitu logat Jeollado (Jeollado saturi-전라도 사투리). Walaupun nenek berusaha berbicara dengan bahasa standard (Pyojun-Eo, 표준어 - bahasa nasional tanpa logat daerah), tetep aja saturi-nya masih kepakai, dan dari semua pembicaraan nenek, saya cuma ngerti 30% doang *JEGEEEEEER*

Believe me, apa yang diomongin sama nenek itu susah banget ditangkep. Pertama, nenek sudah ompong sehingga pengucapan jadi tidak terlalu jelas. Dua, nenek ngomongnya cepet2. Tiga, nenek pakai saturi (logat daerah). Empat, bahasa orang desa jelas beda dengan bahasa orang kota metropolitan, di mana orang desa lebih banyak pakai istilah2 yang tidak dikuasai oleh orang2 kota. Komplit dah itu HIT 4, kkk. Akhirnya saya cuma mengandalkan teman2 setim untuk memberi tahu saya si nenek lagi ngomong apa +_+

Anyway, penelitian yang berlangsung selama 5 jam-an ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan2 antara bahasa nasional standard dengan logat Jeollabukdo, seperti misalnya perbedaan pengucapan dan perbedaan penggunaan kata. Penelitian dilakukan dengan konsep tanya-jawab. Misal, karena kami ingin mengetahui bagaimana penduduk native setempat menyebutkan nama2 musim dalam bahasa setempat, kami bertanya, "Nek, musim di sini itu gimana aja sih?" Terus nenek jelasin deh tentang musim2, dan muncullah kata2 seperti bom (봄, spring), yeoreum (여름, summer), gaeul (가을, autumn), dan yang mengejutkan adalah, nenek menyebutkan musim dingin sebagai sian (시안), bukan gyeoul (겨울). Bukan cuma saya doang yang "amazed" pas denger kata itu, tapi teman2 Korea yang lain juga pada kaget dan sempet kagok denger kata sian, hehehe.

Terus salah satu contoh dari segi perbedaan pengucapan. Orang Jeollabukdo sepertinya cendrung mengucapkan vokal [a] menjadi [ae] dalam beberapa kesempatan, seperti misalnya ketika mengucapkan haebaragi (해바라기, bunga matahari), nenek itu mengucapkannya dengan haebaraegi (해바래기). Terus banyak juga perubahan pengucapan seperti [u] dan [e] menjadi [i] dsb.

Suasana saat tanya-jawab
Kurang lebih gitu sih, kalau hasil penelitiannya dijelasin di sini semua bisa2 postingannya jadi postingan ilmiah nanti, hahaha :D Tapi ada satu hal yang kocak pas kami pingin tahu gimana 'banjir' disebut dalam bahasa daerah setempat. Kami tanya, "Nek, kan pas musim panas ada tuh di mana hari2 banyaaaaaaak banget turun hujan. Saking banyaknya ujan, air pun jadi tergenang, menenggelamkan sawah, rumah, dan bahkan desa. Kondisi itu namanya apa sih, Nek?" Sejenak nenek terdiam, dan kami pun deg2an menanti jawaban. Lalu nenek sambil memperlihatkan ekspresi sedih nan polos langsung bilang, "Aiguuuuuuu (alamaaaak), itu mah hukuman Tuhan! Aiguuuuuuuu!" Dan sontak kami tertawa, membuat nenek terbingung2 kenapa kami ketawa padahal lagi ngomongin "hukuman Tuhan" itu, hahahahaha :DD

Anyway, penelitiannya selesai 1 jam lebih awal dari rencana. Tadinya diperkirakan jam 4 sore baru selesai, ternyata jam 3 juga udah rampung. Sembari menunggu bus datang, sebagian dari kami ada yang tetap tinggal di balai desa, ada juga yang jalan2 keliling daerah sekitar, termasuk saya dan dua orang temen deket saya itu (si Yoon-Bok dan Ji-Sun). Sambil keliling2 sambil foto2, dan sambil cari2 warung buat beli snack. Maklum, selama 5 jam mewawancara nenek, kami cuma dikasih satu lenjer Kimbab dan itu mah mana kenyang. Udah gitu kimbap-nya ada ham-nya pulak, yang akhirnya mau gak mau saya pretelin itu ham satu2 dan makan dengan hati sangat gak tenang T_T Sialnya, entah karena saking ndesonya, atau entah krn di tiap rumah selalu ada makanan, kami gak nemuin warung, hahahaha :P Akhirnya kami bertahan di tengah udara dingin desa dan angin gunung yg kencang dalam kondisi perut mainin musik rock (bukan keroncongan lagi ituh!).

Pemandangan khas pedesaan
Feel free to capture some photos on the middle of the road

Jalan pedesaan aja bagus


Jam empat, bus kami datang, dan waktu berpisah dengan nenek, haru banget deh rasanya. Setelah seharian ngobrol2 dan jadi akrab, pas berpisah rasanya sedih. Apalagi mengingat nenek itu tinggal sendiri2 di umurnya yang udah gak lagi muda, gak ada yang ngurus, gak ada temen ngobrol karena anak2nya udah pada cabski ke kota besar, hiks. Agak miris juga ngebayanginnya. Setidaknya saya ke sana engga cuma belajar bahasa aja, tapi juga belajar menghargai orangtua dan orang tua :(

Anyway, setelah berfoto2 (mungkin) untuk yang terakhir kalinya dan salam2an disertai air mata dari nenek dan beberapa kawan wanita yang lebih mudah tersentuh, akhirnya kami meninggalkan desa dan pergi menuju kuil bernama Gaeamsa (개암사), 20 menit perjalanan dari lokasi keberangkatan. Di sana seperti sebelumnya, pergi ke kaki gunung untuk jalan2 di sekitaran kuil. Kuil Gaeamsa ini tidak sebesar kuil Seonunsa yang kami kunjungi di hari sebelumnya. Kami berkeliling2 sekitar kuil sambil foto2 selama satu jam, dilanjutkan dengan menuju restoran yang udah dipesan di dekat pintu masuk kuil tersebut untuk makan malam. Tapi karena kami datangnya kecepetan, pas sampai sana ya ga heran kalau makananya belum siap, hehehe. Rencana makan malam kan jam 18:30, tapi jam setengah 6 aja kami udah tiba di restorannya, bikin si empunya restoran syok, hahaha. Akhirnya waktu kosong selama 1 jam itu diisi dengan presentasi hasil penelitian siang harinya. FYI, sebenarnya presentasi ini direncanakan pada jam 8 malam, tapi kebetulan ada waktu kosong di awal, akhirnya dimajuin aja, jadi malamnya ada lebih banyak waktu luang.
Pintu masuk Gaeamsa

Lampion dengan latar belakang kuil

Saya dengan latar belakang kuil

 Makan malam siap jam 18:15-an, pas banget setelah presentasi berlangsung. Dengan kondisi ga ada tenaga (gara2 cuma makan kimbap selenjer =_="), kami langsung nyerbu masuk restoran, tanpa banyak ba-bi-bu langsung pada mulai makan. Menunya: Sanchae Bibimbap (산채 비빔밥, bibimbap berisikan segala macam jeis sayur-mayur). Rasanya: jangan ditanya, mantapp!!! Apalagi dalam keadaan kelaperan gitu, hahaha.

Sanchae Bibimbap

Udah beres makan, kami balik ke penginapan lagi. Karena banyak waktu, secara mendadak dibikin rencana untuk kembali ke penginapan melalui jalanan di pinggir pantai untuk melihat sunset. Sejenak saya langsung berbunga2, tapi setelah itu langsung ditampar oleh fakta kalau baterai kamera saya udah abis. Dua2nya. Baterai premiere dan baterai cadangan. Damn! Padahal udah lama banget gak liat sunset. Udah gitu pas sampai sana, sunsetnya bagus banget pula T_T Akhirnya saya cuma potret pakai kamera HP :(

Foto sunset diambil dengan kamera HP ketika bus melaju di jalanan tepi pantai
Sampai di penginapan, kami Istirahat sekitar 30 menit, lalu acara dilanjutkan dengan BBQ-an! Saya udah seneng tuh ada BBQ, tapi pas ditanya dagingnya daging apa, ternyata daging babi alias Samgyeopsal (삼겹살, BBQ daging babi). Jiaaah, pesta buat orang Korea, apes buat gue ini mah namanya, eeeerrrrggghhh) +_+ Saya cuma bisa ngeliat mereka bakar2 daging beibeh ditemani berbotol2 bir dan soju yang terus mengucur dari botol ke gelas ke tenggorokan mereka. Well, berhubung saya gak tertarik buat ikutan, plus asepnya gak nahan dan anginnya dingin, dan fakta kalau saya ngantuk berat, akhirnya dengan berjingkat2 tanpa suara (background song: Pink Panther) pergi  saya meninggalkan TKP pukul 9 malam di saat mereka pada teler. Saya rasa sih dalam keadaan mabuk gitu, mereka gak bakal nyadar kalau ada seorang anak alim (blaaaahhh, kkk) diem2 cabut ke kamar sendirian, kkk. Saya cuma bilang sama Yoon-Bok dan Ji-Sun doang kalau saya pingin tidur duluan, dan berhubung mereka udah ngerti, they helped me! :D

El Clasico
Sampai kamar, saya coba tidur, eh ternyata gak bisa. Internet pun gak ada, eyalah. Mana lupa bawa buku modul buat ngerjain tugas pulak. Untung ada TV. H2C semoga ada channel olahraga gitu, dan ternyata Star Sports ada! Dan menayangkan Real Madrid vs Barcelona pulak! Hell yeah! Hahahaha, saya jauh lebih senang nonton El Clasico daripada nonton orang mabok dibalut udara dingin dan asap, kkk.

Jam 12, beberapa senior S-3 balik ke kamar, setengah mabuk. Saya ngobrol2 bentar sama mereka, dan ga lama kemudian krn mereka udah tepar mereka pingin tidur aja. Matras tidur udah digelar, ondol (heater di lantai) udah dinyalain, dan kami tidur cepat malam itu, kkk.


No comments:

Post a Comment